Beton merupakan salah satu elemen penting dalam bidang konstruksi yang berfungsi sebagai bahan baku konstruksi suatu pembangunan infrastruktur. Penggunaan beton sangat popular untuk konstruksi, seperti konstruksi jalan, jembatan, gedung, dan lain lain, dikarenakan beton dapat menahan gaya tekan dengan baik. Peningkatan penggunaan beton berbanding lurus dengan meningkatnya produksi kebutuhan produksi beton itu sendiri. Berbagai inovasi terhadap pembuatan beton saat ini terus dilakukan untuk mendapat rancangan komposisi bahan penyusun beton yang baik sehingga menghasilkan beton yang mempunyai kuat tekan tinggi, misalnya dengan memanfaatkan sampah anorganik seperti sampah plastik PET dan sampah kertas.
Plastik PET (Polyethylene Terephthalate) memiliki karakteristik kaku, ringan, kuat, tahan lama, tebal, dapat dibentuk dengan mudah saat dipanaskan, dan mempunyai dayadtahan yangdbaik terhadap sobekan dan kikisan sehingga sangat cocok untuk pengujianMkuatdtekan (Apriliya et al., 2021). PlastikMPET yang digunakan adalah botol minuman kemasan. Penelitian yang dilakukan oleh Yudhis menunjukan penambahan serat plastik PET untuk beton dapat meningkatkan kuat tekan sebesar 23,67%. Kertas merupakan bahan yang terbuat dari serat organik yang dapat diubah menjadi bahan yang dapat meningkatkan karakteristik beton dalam hal hemat biaya, ringan, dan kuat serta memiliki ketahanan terhadap suhu yang berubah (Israini & Rahman, 2018). Kertas yang dipakai merupakan kertas HVS yang sudah tidak digunakan lagi dan diolah menjadi bubur kertas untuk memudahkan dalam mencampur bahan-bahan.
Kertas sangat digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh hampir seluruh manusia. Produksi kertas yang terus meningkat akan memberikan dampak pada kelestarian lingkungan hidup (Astuti, 2018). Paper on The Rocks menyebutkan bahwa presentasse deforestasi sama dengan perusakan 4,1 juta hektar hutan setiap tahun. World Wild Life menyatakan lebih dari 40 persen semua kayu global digunakan pada industri kertas. Jumlah sampah kertas pun relatif banyak yaitu berjumlah 7.458.000 pada tahun 2019 (KLHK, 2021). Kertas yang sudah digunakan tidak semuanya didaur ulang oleh pabrik atau masyarakat. Kertas yang tidak bermanfaat akan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Maka dari itu, peneliti melakukan penelitian campuran beton kertas dan plastik PET pada pembuatan beton k-125. Beton k-125 termasuk beton mutu rendah (low strength concrete) yang memiliki kuat tekan dibawah 20 MPa. Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengembangkan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Vladimir (2023). Pada penelitiannya dilakukan penggabungan limbah plastik PET dan kertas kedalam campuran beton ringan dengan penambahan 0,2% plastik PET pada agregat kasar serta 4% kertas pada agregat halus. Penelitian tersebut menghasilkan beton ringan yang memenuhi standar SNI 7394-2008. Namun terdapat ketidakefektifan dalam penelitian tersebut karena penggunaan persentase kertas dan plastik yang digunakan masing-masing hanya 1 variasi sehingga kuat tekan yang dihasilkan belum optimum. Berdasarkan hal tersebut dilaksanakan pengujian kuat tekan beton dengan memanfaatkan sampah kertas sebagai substitusi agregat halus dan plastik PET sebagai substitusi agregat kasar pada beton mutu k-125. Dilakukan penambahan variasi terhadap bahan substitusi (plastik PET dan kertas) sehingga akan mendapatkan kuat tekan beton yang optimum dan dapat digunakan dalam konstruksi Lean Concrete dan dak lantai beton dengan mutu sesuai standar SNI 03-2847-2002.

Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa variasi optimum beton adalah beton B dengan hasil kuat tekan sebesar 10,68 MPa dan nilai absorpsi sebesar 2,3%; dengan biaya Rp. 643.825,20/m3. Disimpulkan bahwa beton B memenuhi standar SNI 03-2847-2002 mengenai beton K125 sehingga beton B dapat diaplikasikan menjadi lean concrete dan dak lantai beton serta beton ramah lingkungan. Hasil pengujian kuat tekan dan absorpsi terhadap penambahan plastik PET dan kertas sebagai substitusi agregat pada campuran beton K125 didapatkan hasil nilai terbaik dari uji kuat tekan berada di variasi A dengan nilai kuat tekan 138,25 kg/cm2, sedangkan nilai terendah berada pada variasi D dengan nilai kuat tekan 106,19 kg/cm2. Nilai terbaik pada absorpsi berada pada variasi D dengan nilai daya serap air 1,9%, sedangkan nilai terendah berada pada variasi A dengan nilai daya serap air 2,5%. Berdasarkan penelitian dan hasil pengujian, didapatkan biaya pembuatan untuk 1 benda uji beton normal per m3 adalah Rp. 651.360,00 Sedangkan harga beton terbaik berada pada variasi D dengan persentasi 1% plastik PET dan 4% kertas dengan harga produksi Rp. 642.914,40 sehingga terjadi penekanan biaya sebesar Rp. 8.445,60/m3.